Digimifin – Menjelang Ramadan, suasana di sejumlah pemakaman biasanya lebih ramai dari hari biasa. Banyak keluarga datang untuk berziarah ke makam orang tua, kakek-nenek, hingga kerabat tercinta.
Tradisi ini sudah lama melekat di masyarakat Indonesia dan seakan menjadi “ritual” tak tertulis sebelum masuk bulan suci.
Tapi pertanyaannya, apakah ziarah kubur sebelum Ramadan memang diperbolehkan dalam Islam? Atau justru ada larangan tertentu?
Awalnya Sempat Dilarang, Lalu Diperbolehkan
Dalam sejarahnya, ziarah kubur pernah dilarang pada masa awal Islam. Saat itu, keimanan umat masih dalam proses penguatan sehingga dikhawatirkan muncul praktik-praktik yang menyimpang.
Seiring waktu, ketika akidah umat Islam sudah lebih kokoh, ziarah kubur kemudian diperbolehkan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ziarah kubur dapat menjadi pengingat akan kematian dan kehidupan akhirat.
Artinya, tujuan utama ziarah bukan sekadar datang ke makam, tetapi sebagai momen refleksi diri. Mengingat bahwa hidup di dunia hanya sementara dan setiap orang pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.
Karena itu, ziarah kubur sebelum Ramadan pada dasarnya tidak dilarang. Bahkan bisa menjadi sarana memperbaiki diri sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Kapan Ziarah Jadi Tidak Dianjurkan?
Meski diperbolehkan, ada batasan yang harus diperhatikan. Ziarah kubur bisa menjadi tidak benar jika disertai niat atau praktik yang menyimpang, seperti meminta langsung kepada ahli kubur, menjadikan makam sebagai tempat pemujaan, atau meyakini sesuatu yang bertentangan dengan ajaran tauhid.
Selama ziarah dilakukan untuk mendoakan, mengingat kematian, dan mempererat silaturahmi keluarga, maka hukumnya diperbolehkan. Jadi yang perlu dijaga adalah niat dan caranya, bukan waktunya.
Tradisi yang Menguatkan Kebersamaan
Di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Lombok, ziarah kubur menjelang Ramadan sudah menjadi tradisi turun-temurun. Biasanya dilakukan bersama keluarga besar.
Ada yang datang hanya untuk membaca doa, ada juga yang sekalian membersihkan makam dari rumput liar dan merapikan nisannya. Bahkan di beberapa desa, kegiatan ini dilakukan secara gotong royong oleh warga satu kampung.
Setelah membersihkan area pemakaman, biasanya dilanjutkan dengan doa bersama. Suasananya sering kali terasa khidmat sekaligus hangat karena menjadi ajang berkumpul keluarga.
Momen Introspeksi Sebelum Ramadan
Ziarah kubur bukan hanya soal tradisi, tetapi juga pengingat. Ketika berdiri di depan makam, seseorang akan lebih mudah merenung tentang kehidupan, amal, dan persiapan menuju akhirat.
Tak jarang pula ada keluarga yang baru menyadari kondisi makam kerabatnya sudah jarang dikunjungi. Ada yang nisannya rusak, bahkan ada yang hampir tak dikenali karena tertutup tanah atau rumput. Dari situ muncul kesadaran untuk lebih peduli dan tidak melupakan orang-orang yang telah mendahului.
Menjelang Ramadan, momen seperti ini terasa semakin bermakna. Sebab bulan suci identik dengan ampunan, doa, dan perbaikan diri.
Jadi, Boleh atau Tidak?
Secara hukum, ziarah kubur sebelum Ramadan tidak dilarang dalam Islam. Justru bisa menjadi sarana introspeksi dan pengingat akan kematian, selama tidak disertai praktik yang menyimpang dari ajaran tauhid.
Yang terpenting bukan pada waktunya, tetapi pada niat dan tujuan ziarah itu sendiri. Kalau kamu, sudah ada rencana ziarah sebelum Ramadan tahun ini?









